Kisah pilu kembali menghiasi kota Kulim, Kedah, ketika seorang istri baru terlantar sakit dan kehilangan ingatan setelah kecelakaan yang terjadi tiga bulan setelah pernikahannya. Kejadian ini mengubah harapan awal pernikahan yang penuh cinta menjadi duka yang mendalam.
Kecelakaan yang Mengubah Segalanya
Azhar Kamarul Aidi, 33 tahun, kini menghabiskan hari-harinya merawat isterinya, Syarifah Sopian, 39 tahun, yang mengalami cedera serius akibat kecelakaan sepeda motor pada bulan Oktober. Kecelakaan ini terjadi ketika Syarifah mengantarkan Azhar pulang dari tempat kerjanya. Saat perjalanan kembali ke kampung Pagar Museh, sepeda motor mereka terjatuh ke dalam jurang.
Azhar mengungkapkan bahwa dirinya segera sadar setelah kecelakaan, tetapi isterinya mengalami cedera kepala yang parah dan terjebak dalam koma selama sebulan. Ia merasa bersalah karena menjadi pengemudi sepeda motor dan merasa sedih ketika dokter menyampaikan bahwa isterinya harus hidup dalam keadaan terlantar seumur hidup. - afhow
“Saya merasa sangat sedih karena isteri saya kehilangan ingatannya dan tidak mengenali saya sebagai suaminya,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Kehidupan yang Berubah Total
Azhar kini tidak lagi bekerja karena ingin fokus merawat isterinya. Namun, ia dibantu oleh anggota keluarga lain yang tinggal bersama mereka. Kondisi Syarifah terus memprihatinkan; ketika ia bangun, matanya hanya menatap ke atas, dan tidak merespons meskipun namanya dipanggil.
“Saya sangat sedih melihatnya seperti itu. Saya berharap dia bisa melihat saya,” tambah Azhar dengan suara bergetar.
Kisah Lain yang Menyedihkan
Sementara itu, di Pasir Puteh, Kelantan, Mat Rawi Omar, 52 tahun, juga menghadapi tantangan berat. Ia menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga setelah isterinya, Ramizah Ghazi, 37 tahun, mengidap penyakit ginjal stadium lima dan kini terlantar sakit. Ia juga merawat putranya, Muhammad Rayan Mat Rawi, yang lahir dengan kondisi pertumbuhan yang tidak normal pada kaki dan masalah tulang belakang.
“Sebelum isteri saya sakit, saya bekerja sebagai tenaga kerja desa dengan penghasilan RM50 per hari. Namun, sekarang saya tidak bisa bekerja karena harus merawat isteri dan anak, serta pergi ke rumah sakit,” ujar Mat Rawi saat ditemui di rumahnya di Kampung Banggol Telipot.
Kondisi rumah mereka juga sangat memprihatinkan. Mat Rawi mengatakan bahwa bagian-bagian rumah mereka tidak aman untuk ditinggali, sehingga mereka kini tinggal di dapur sementara.
“Saat ini, kami tinggal di dapur karena bagian rumah kami sudah rusak dan bisa roboh kapan saja,” ujarnya.
Kisah-kisah ini menunjukkan betapa beratnya tantangan yang dihadapi oleh keluarga-keluarga di berbagai daerah. Mereka harus menghadapi kondisi kesehatan yang buruk dan kehidupan yang tidak stabil. Dengan bantuan dari pihak berwenang dan masyarakat, harapan untuk perbaikan terus diharapkan.